Monday, September 12, 2016
Hari-hari terakhir. #tb
Iftar terakhir di bumi Sheffield,
Diluangkan di rumah Kak Yanti,
Usrahmate yang beranak dua.
Ah pasti kurindu anak-anak itu.
"Do you go to school today?"
"Yes"
"Who do you meet at school?"
Bilang dengan jari. One "Adam"
"Ohh. you love him so much?"
"Yes"
Two."Sandsh"
"Sandsh?"
Geleng-geleng "Sandsh"
"Oo, Sandsh"
Geleng-geleng-geleng "Sandsh!"
"Friends?"
Angguk.
Ketawa.
Three. "Teacher"
Haha.
Before balik.
"Hubbb" Sambil depa tangan
*Huggs*
Sebelum balik, salam kak yanti, peluk.
"Jaga diri, take care sana, semoga thabat, lalala"
Bagai angin lalu ia melepasi telingaku.
"Jazakillahukhayr akak..." Air mata berderai.
Satu persatu momen bersama terimbas.
Aku ingat saat-saat aku merasa sakit di jalan dakwah ini,
Sakit yang menyelinap ke lelap bangunku, makan minumku, sendiri atau di tengah keramaian,
dan ukhti yang ini membalas lembut,
"Jangan mengalah"
Laju air mata menderu.
Saat berkongsi duka.
berpeluk, kerana melalui mehnah ini sendiri,
nyata tak berupaya
Saat pertama kita bersua, tak pernah kenal,
tapi mesra dan panjang bicara,
kerana medan dan visi kita sama.
Saat masaku penuh,
lalu kau tangkas mencukupiku
terhadap mas'uliyat yang ada,
"Jazakillahukhayr akak.."
Suara mula berubah
"Dengar masalah saya.."
"Bagi kata-kata semangat.."
"Tolong bantu jaga EMSY"
Dua-dua teresak.
Tuesday, July 5, 2016
Ramadhan yang datang dan pergi
Alhamdulillah Allah still let me open my eyes on the 30th Day of Ramadhan - The final day of the holy month.
What a heavy heart I have to let ramadhan leave. Too heavy I'm so afraid, my sins are still not forgiven.
Aku rindu malam-malam yang diisi dengan tarawih dan tilawah
Aku rindu siang yang tak dilalui kecuali dengan menahan diri
Aku rindu betapa luasnya pengampunan dan betapa hampirnya syurga yang dijanjikan - ia memberi pengharapan terhadap para pendosa yang hina, seperti aku.
Aku rindu dekatnya Dia, dan barakahnya setiap detik dalam bulan mulia ini.
Kalaulah bisa ditahan waktu dari merangkak pergi...
Ramadhan
tempat mengutip bekalan,
finally makes it way.
Biar masih sehari berbaki,
Ku bisikkan kerinduan pada Ilahi,
rindu pada bulan barakah kurniaanNya
sedih yang tak terucap.
Biarku bisikkan perasaan ini pada Rabbi,
dengan bahasa yang cuma aku dan Dia mengerti.
Nyata Rabbku membalas,
dalam tilawahku pada hari itu.
Dengan kisah Ibrahim alaihissalam.
Aku terjeda pada kisah Ibrahim yang tulus mencari.
Allah mahu mengajarku melepaskan...
Bintang, bulan, mentari. Semuanya hadir dan pergi.
Begitu juga ramadhan yang menyinar - ia hadir, dan harus jua pergi.
Namun Rabb, pencipta dan pemilik ramadhan,
Tetap saja ada.
Tetap menawarkan keampunan,
Sedia mendengarkan dan mengabulkan pinta para perayu.
Barakahnya ramadhan,
Kuatkah aku melalui sebelas bulan mendatang?
Gusar dan harap
What a heavy heart I have to let ramadhan leave. Too heavy I'm so afraid, my sins are still not forgiven.
Aku rindu malam-malam yang diisi dengan tarawih dan tilawah
Aku rindu siang yang tak dilalui kecuali dengan menahan diri
Aku rindu betapa luasnya pengampunan dan betapa hampirnya syurga yang dijanjikan - ia memberi pengharapan terhadap para pendosa yang hina, seperti aku.
Aku rindu dekatnya Dia, dan barakahnya setiap detik dalam bulan mulia ini.
Kalaulah bisa ditahan waktu dari merangkak pergi...
Ramadhan
tempat mengutip bekalan,
finally makes it way.
Biar masih sehari berbaki,
Ku bisikkan kerinduan pada Ilahi,
rindu pada bulan barakah kurniaanNya
sedih yang tak terucap.
Biarku bisikkan perasaan ini pada Rabbi,
dengan bahasa yang cuma aku dan Dia mengerti.
Nyata Rabbku membalas,
dalam tilawahku pada hari itu.
Dengan kisah Ibrahim alaihissalam.
"Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang lalu dia berkata, 'Inilah Tuhanku', Maka ketika bintang itu terbenam, dia berkata, 'Aku tidak suka kepada yang terbenam"
"Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, 'Inilah Tuhanku." Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, 'Sungguh, jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat"
"Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata "Inilah Tuhanku, ini lebih besar', Tetapi ketika ia terbenam, dia berkata, 'Wahai kaumku sungguh aku berlepas diri terhadap apa yang kamu persekutukan"
"Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan, mengikut agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik"
{6:76-79}
Aku terjeda pada kisah Ibrahim yang tulus mencari.
Allah mahu mengajarku melepaskan...
Bintang, bulan, mentari. Semuanya hadir dan pergi.
Begitu juga ramadhan yang menyinar - ia hadir, dan harus jua pergi.
Namun Rabb, pencipta dan pemilik ramadhan,
Tetap saja ada.
Tetap menawarkan keampunan,
Sedia mendengarkan dan mengabulkan pinta para perayu.
Barakahnya ramadhan,
Kuatkah aku melalui sebelas bulan mendatang?
Gusar dan harap
Thursday, June 2, 2016
Aku rela.
Bagaimana bisa aku jadi yang paling Engkau cintai?
Engkau pandang
Engkau beri perhatian
Walau cuba aku meraih perhatianMu
Kerana tangan yang diangkat berdoa
Disalut maksiat pekat
Kerana suara yang lirih merintih
Samar-samar dek lagha dan kelekaan
Tak mengapa andai aku bukan yang paling Engkau cintai
Tapi biar Engkau yang paling aku cintai
Yang aku.. Rayu. Harap. Rintih.
Tak mengapa andai doaku tak didengari
Asal Engkau beri aku rezki, untuk selalu berdoa padaMu
Monday, May 23, 2016
Verily, I'm near.
Tak senang duduk.
Terdetik.
Tak semena. Computational practice yang sedang dilakukan pun tiba2 jadi serabut. Serba tak kena. Asyik error. Tudung pun rasa rimas.
Berhenti kejap. Ke tandas. Betulkan tudung. Wudhu'
Kembali.
I'd better delete this one.
And start over
Set up
Intialize
Run
.
.
.
Blank
Tiada data.
Bertahan.
Browse semua tab yang ada mencari apa yang dia tersilap
Tab run calculation
Iteration: 0
Itulah sebabnya tiada data!
"La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzhalimin
Terpacul spontan di bibirnya
Tiada ilah melainkan Engkau. Maha suci Engkau sesungguhnya aku termasuk hamba2 yang zhalim
Kalau.
Kekalutan dan serba tak jumpa dalam studi. Buat makin rasa hinanya diri, dan besarnya Dia... Biarlah aku menghayati kehinaan ini.
Terdetik.
Allah, kenapa Engkau dengar keluhan aku?
The verse translating to:
"Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku penuhi permintaan para peminta apabila mereka meminta...."
Immediately heard on the earphone.
Allah, to you I surrender.
Ukhti, aku kerinduan.
Saat dinding muka bukumu kulihat hanya post peribadi
Ukhti, aku dirudung sayu
Saat kau kulihat berbalas komen dan like di dinding sang tunang
Ukhti, aku dicengkam pilu
Saat engkau berkomentar peri filem panggung terkini
Ukhti, aku dihurung sepi
Dadaku berombak - Ukhti,
Kau tak membenci jalan ini
Kau tak terbeban oleh jalan ini
Kau tak dikongkong oleh jalan ini
Kau cuma
Teralih oleh mehnah peribadi - yang mencengkam
Tertipu saat disibukkan oleh dunia - yang memperdaya
Tertahan dek maksiat hitam membesit - yang mengaburkan tujuan
Hingga engkau lupa,
Ini jalan indah yang pernah kita ikrarkan bersama
Ini jalan sukar, yang keserabutannya mengajar kita erti kemanisan
Ini jalan anbiya', yang tak mungkin kita pilih selainnya
Ukhti aku merayu
Janganlah engkau berputus asa dari jalan dakwah ini...
Di tengah bening dhuha
Aku teringat
Ukhti, aku dirudung sayu
Saat kau kulihat berbalas komen dan like di dinding sang tunang
Ukhti, aku dicengkam pilu
Saat engkau berkomentar peri filem panggung terkini
Ukhti, aku dihurung sepi
Dadaku berombak - Ukhti,
Kau tak membenci jalan ini
Kau tak terbeban oleh jalan ini
Kau tak dikongkong oleh jalan ini
Kau cuma
Teralih oleh mehnah peribadi - yang mencengkam
Tertipu saat disibukkan oleh dunia - yang memperdaya
Tertahan dek maksiat hitam membesit - yang mengaburkan tujuan
Hingga engkau lupa,
Ini jalan indah yang pernah kita ikrarkan bersama
Ini jalan sukar, yang keserabutannya mengajar kita erti kemanisan
Ini jalan anbiya', yang tak mungkin kita pilih selainnya
Ukhti aku merayu
Janganlah engkau berputus asa dari jalan dakwah ini...
Di tengah bening dhuha
Aku teringat
Aku rindu saatnya
Imanku lemah dan engkau, menguatkan
Aku keculasan dan engkau, mengingatkan
Aku keletihan dan engkau, memberi semangat
Antara kelibatmu - kamu, kamu dan kamu di jalan ini dan sebuah memori
Ukhti, aku kerinduan.
NDNT
10:36:34
23.05.16
Exeter Way, Sheffield
Thursday, April 14, 2016
Jalan Thabat.
Saat seorang ukhti, yang dilahirkan dalam keluarga ikhwah akhawat berbicara,
"*** dah taknak join usrah. Selama ni dia join sebab mak dia suruh je. Dia kata tak sabar nak keluar sekolah nak bebas dari usrah-usrah ni. Tahu2 nama dah kena forward, xboleh lari dah. Bila fly pun sama. Setiap kali nak pergi usrah stress"
Saat seorang ikhwah, yang suatu masa dahulu merupakan YDP di kawasanmu, melontarkan,
"Just to clarify, I'm no longer part of ****M"
Kita makin kenal,
Tabiat jalan ini.
Jalan thabat.
Kalau bahkan YDP engkau sendiri bisa bicara yang seperti itu, kita makin tahu, keberadaan kita di atas jalan dakwah ni, kita sandarkan cuma pada Allah.
Pada Allah cuma.
Feeling demotivated,
mungkin bukan kerana terkejut,
atau merasa goyah...
Tapi kerana,
mereka ikhwah akhawat yang dicinta.
"*** dah taknak join usrah. Selama ni dia join sebab mak dia suruh je. Dia kata tak sabar nak keluar sekolah nak bebas dari usrah-usrah ni. Tahu2 nama dah kena forward, xboleh lari dah. Bila fly pun sama. Setiap kali nak pergi usrah stress"
Saat seorang ikhwah, yang suatu masa dahulu merupakan YDP di kawasanmu, melontarkan,
"Just to clarify, I'm no longer part of ****M"
Kita makin kenal,
Tabiat jalan ini.
Jalan thabat.
Kalau bahkan YDP engkau sendiri bisa bicara yang seperti itu, kita makin tahu, keberadaan kita di atas jalan dakwah ni, kita sandarkan cuma pada Allah.
Pada Allah cuma.
Feeling demotivated,
mungkin bukan kerana terkejut,
atau merasa goyah...
Tapi kerana,
mereka ikhwah akhawat yang dicinta.
Monday, April 11, 2016
Al-Birr.
Aku kira ini bukan escapisme.
A retreat instead.
Menerima kata-kata yang dirasakan pedih dan mencucuk. Kasar dan tak mengenal belas. Sakit. Nak membalas pun, terlalu penat untuk itu. Bila simpan sendiri, kadang aku cuma perlu beberapa saat pejaman mata untuk beritahu hati, sakit.
Tinggal beberapa depa cuma ke rumah sewaan. Aku decide untuk solat di surau berdekatan instead. Menanti sang muazzin melaungkan iqamat, aku teruskan hafazan.
Lidah dilantun-lantun seiring gerak anak mata. Hati.. menerawang. Hingga ia teringat kembali kepedihannya. Serentak itu lidah sedang tepat melantun baris kalamNya berbunyi
"Dan orang-orang yang bersabar pada kemelaratan, penderitaan dan ketika waktu perang..."
Lemah.
"Mereka itulah orang-orang yang benar.."
Kelajuan bacaan makin perlahan, perlahan.. Aku bukan orang itu ya Allah..
"Dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa"
Jauh.
Pujukan paling lembut. Terhadap keserabutan ini. Minda, hati, nurani.
Aku biar masa berlalu, dan aku mengulang lagi muka surat yang sama. Tiap kali hati mengingati apa yang menyakitinya, tiap kali itu lidah sedang mengulang ayat yang sama itu. Tentang para penyabar itu.
Allah, mengajar aku tentang al-Birr.
A retreat instead.
Menerima kata-kata yang dirasakan pedih dan mencucuk. Kasar dan tak mengenal belas. Sakit. Nak membalas pun, terlalu penat untuk itu. Bila simpan sendiri, kadang aku cuma perlu beberapa saat pejaman mata untuk beritahu hati, sakit.
Tinggal beberapa depa cuma ke rumah sewaan. Aku decide untuk solat di surau berdekatan instead. Menanti sang muazzin melaungkan iqamat, aku teruskan hafazan.
Lidah dilantun-lantun seiring gerak anak mata. Hati.. menerawang. Hingga ia teringat kembali kepedihannya. Serentak itu lidah sedang tepat melantun baris kalamNya berbunyi
"Dan orang-orang yang bersabar pada kemelaratan, penderitaan dan ketika waktu perang..."
Lemah.
"Mereka itulah orang-orang yang benar.."
Kelajuan bacaan makin perlahan, perlahan.. Aku bukan orang itu ya Allah..
"Dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa"
Jauh.
Pujukan paling lembut. Terhadap keserabutan ini. Minda, hati, nurani.
Aku biar masa berlalu, dan aku mengulang lagi muka surat yang sama. Tiap kali hati mengingati apa yang menyakitinya, tiap kali itu lidah sedang mengulang ayat yang sama itu. Tentang para penyabar itu.
Allah, mengajar aku tentang al-Birr.
Sunday, March 6, 2016
Remembrance of late Wan.
I write. So I remember.
Wan. It has been three years that you are bed-ridden. I am pleased, and pleasured, if you leaving - is the better option.
I witnessed your healthy days. That you are, as energetic as young adults are. I remember days, when I have to rush to the bathroom as soon as I open my eyes early in the morning before fajr, so that you don't enter before me. With your slow paced-walk, and weak backbones that are no longer straight, I envy you at how istiqamah you are with night prayers.
You. are more bashful than young ladies. You keep your voice low, tidy up your room neat, and eat with manners. Gadis kampung - that is you.
As I received the news of you. I tried keeping calm but I can't deny I lose focus.
The surprise snow that falls in the midst of spring, is like tears, that weeps upon your passing. And like the rain, that calms the sadness of the weeping hearts.
Still, looking cool. But bursts as I prostrate in my prayers. Only to You Allah, that I can't lie.
I miss.
Feeding you with your favourite food.
Listening to you about the historic times of Tanah Melayu.
Reciting Qur'an to you, when reciting alone makes me sleepy.
Massaging your swollen muscle, till you fall asleep.
Walk passing your room, with the lights on.
And you holding my hand tight, as I bid farewell before leaving for the Uni.
Opened the Quran to finish my Kahf. And there the first verse,
Teary as I am completing my Kahf. And sometimes paused as the the tears overwhelmed. It's painfully hard to face this Allah. And continue to the next page,
Still, looking cool. But bursts as I prostrate in my prayers. Only to You Allah, that I can't lie.
I miss.
Feeding you with your favourite food.
Listening to you about the historic times of Tanah Melayu.
Reciting Qur'an to you, when reciting alone makes me sleepy.
Massaging your swollen muscle, till you fall asleep.
Walk passing your room, with the lights on.
And you holding my hand tight, as I bid farewell before leaving for the Uni.
Opened the Quran to finish my Kahf. And there the first verse,
"That is how We show to human,
so that they know,
that His promise is true,
that there is no doubt
upon the Day of Judgement"
Teary as I am completing my Kahf. And sometimes paused as the the tears overwhelmed. It's painfully hard to face this Allah. And continue to the next page,
"And be patient with those
who call for their Lord
in the morning
and during the dusk,
wanting His pleasure.."
Friday, February 12, 2016
Iman.
Iman validates all the laws, relationships, formulaes that we have ever learned in Dakwah.
Imanlah kuncinya.
Tak kira di mustawa mana, berapa usia kita dalam dakwah dan tarbiyah, berapa ramai pun anak binaan, melakukan tajmik atau takwin,
tak ada yang mampu menjamin kelestarian dakwah dan tarbiyah kita.
Begitupun jika tetap saja ada di jalan dakwah, bara momentum, komitmen dan ghairah dalam menyerahkan tenaga dan tubuh kita tetap saja membutuhkan koreksi jujur dari diri kita
Ada yang kata, bukan dia lagi lama join DnT dari saya ke, kenapa susah nak nampak di daurah, tak hadir meeting, susah menyahut seruan-seruan amal..
Boleh jadi ada faktor yang lebih besar dari itu yang menentukan pergerakan kita di arena dakwah ini...
... Iman.
Benar, semakin fahamnya seseorang melalu taujiah fikriyah yang ia terima,
semakin panjang usia dan mehnah yang dilalui di atas jalan dakwah,
semakin banyak teguran dan situasi yang ia sendiri hadapi di jalan dakwah,
Pastinya..
Mengukuhkan kefahaman, memberi kekuatan, menguatkan daya tahan, melajukan sendi dan tulang, menambah bernas buah fikiran, membantu mengikhlaskan dan mencintai amal di jalan dakwah.
Tapi semua itu
Hanya dan jika hanya,
Imannya di jaga di sepanjang jalan amal itu.
Namun jika tidak.
Biar siapa pun dia, apa pun jawatannya,
Saat Imannya sedang sakit..
usah diungkit mustawa atau marhalah atau pengisian yang pernah ia terima.
semua itu tak bererti
Allah akan menjadikan amal dakwah ini rumit untuknya, perkara mudah terasa sukar untuknya. Jalan yang suatu masa teramat manis, seolah beban yang merimaskan.
Begitu...
Saat mutabaahnya melemah. Saat hubungan dengan Allah merapuh. Saat muhasabah diri begitu jauh. Saat ibadah khususnya berkurang.. Namun tak ada yang ia perbuat untuk mendaki semula prestasi amal.
Betapa.
Wahyu Rabbani itu kalimah yang terlampau mulia, diserah kepada malaikat suci nan taat tak berbelah bahagi pada Ilahi
Dakwah ini penghormatan yang terlampau tinggi, diberi kepada para nabi yang terlalu akrab dengan kekasihnya
Bagaimana sekali kita yang hina, ingin berbuat dakwah menyampaikan risalah cuma dengan tulang empat kerat, jiwa kecil yang berkarat, pengalaman tak seberapa tapi merasa hebat, dan semangat yang kian kemari kembang kuncupnya...
Tanpa mengambil cinta dan asa dari langit?
Rindu yang amat rindu.
Imanlah kuncinya.
Tak kira di mustawa mana, berapa usia kita dalam dakwah dan tarbiyah, berapa ramai pun anak binaan, melakukan tajmik atau takwin,
tak ada yang mampu menjamin kelestarian dakwah dan tarbiyah kita.
Begitupun jika tetap saja ada di jalan dakwah, bara momentum, komitmen dan ghairah dalam menyerahkan tenaga dan tubuh kita tetap saja membutuhkan koreksi jujur dari diri kita
Ada yang kata, bukan dia lagi lama join DnT dari saya ke, kenapa susah nak nampak di daurah, tak hadir meeting, susah menyahut seruan-seruan amal..
Boleh jadi ada faktor yang lebih besar dari itu yang menentukan pergerakan kita di arena dakwah ini...
... Iman.
Benar, semakin fahamnya seseorang melalu taujiah fikriyah yang ia terima,
semakin panjang usia dan mehnah yang dilalui di atas jalan dakwah,
semakin banyak teguran dan situasi yang ia sendiri hadapi di jalan dakwah,
Pastinya..
Mengukuhkan kefahaman, memberi kekuatan, menguatkan daya tahan, melajukan sendi dan tulang, menambah bernas buah fikiran, membantu mengikhlaskan dan mencintai amal di jalan dakwah.
Tapi semua itu
Hanya dan jika hanya,
Imannya di jaga di sepanjang jalan amal itu.
Namun jika tidak.
Biar siapa pun dia, apa pun jawatannya,
Saat Imannya sedang sakit..
usah diungkit mustawa atau marhalah atau pengisian yang pernah ia terima.
semua itu tak bererti
Allah akan menjadikan amal dakwah ini rumit untuknya, perkara mudah terasa sukar untuknya. Jalan yang suatu masa teramat manis, seolah beban yang merimaskan.
Begitu...
Saat mutabaahnya melemah. Saat hubungan dengan Allah merapuh. Saat muhasabah diri begitu jauh. Saat ibadah khususnya berkurang.. Namun tak ada yang ia perbuat untuk mendaki semula prestasi amal.
Betapa.
Wahyu Rabbani itu kalimah yang terlampau mulia, diserah kepada malaikat suci nan taat tak berbelah bahagi pada Ilahi
Dakwah ini penghormatan yang terlampau tinggi, diberi kepada para nabi yang terlalu akrab dengan kekasihnya
Bagaimana sekali kita yang hina, ingin berbuat dakwah menyampaikan risalah cuma dengan tulang empat kerat, jiwa kecil yang berkarat, pengalaman tak seberapa tapi merasa hebat, dan semangat yang kian kemari kembang kuncupnya...
Tanpa mengambil cinta dan asa dari langit?
Rindu yang amat rindu.
Sunday, January 17, 2016
Family: Thankful all around.
Bila sebut tentang family, I easily smile wide.
Subhanallah, alhamdulillah. Family, is indeed one of the biggest reason for me to express my gratitude to Allah, after Islam, Iman, and this Dakwah & Tarbiyah. I can't thank Allah more for this.
Whenever I love someone, I can't help but to pray that Allah choose them, to be in this Dakwah&Tarbiyah. What is a better place/position one can achieve than to be His helpers? - regardless, how helpless, how impossible that prayer seemed to me.
That is until, my elder brother....
The one whom I used to fight with when turning on the radio.
I hate all those crap songs he's listening to.
The one whom whatever I do - usrah, daurah, tajmik and many more - is his laughing stock.
.. got married to an ukht. And is joining usrah now.
Long way to go but, all the impossible seems so clear to me now. Allah is indeed the All-Hearing.
From that moment onwards, my prayers landscape has changed its tone. Full of confidence, full of hope. I know he'll grant our prayers.
The journey of Dakwah & Tarbiyah with your family is a whole different story. Regardless how many juniors you approached, how many halaqah you conducted, how many taujihat you presented, how many programmes you organised; your family is not - even close - to any of those.
They know the black and white - greys included - of you. Doing dakwah to them, tests the truth of your dakwah, you can hide nothing.
And them - each of them - have their own ego; now testing your hikmah. Subhanallah, a long journey indeed. But I shall not surrender.
I did not express it, but I can see Ummi's view, changed.
I remember, my mobility to programmes, were usually restricted by ummi and abi' permission. They used to say I am too busy, I need to spend more time home, I have to learn to appreciate the family..
That is until, I realised my dakwah and tarbiyah isn't balanced. I failed to do my part back home. I tried, changing.
Later on I see changes around me as well.
Plot twist.
Umi will be the one asking, "kenapa tak pergi?"
"Na, cuba la ajak kaklah sekali"
"Kaklah nak pergi vacation"
"Cuti tu kan panjang, takkan semuanya pergi vacation"
One habit that I think anyone who joins D&T will posses is, book obsession.
I kept on buying books, and during last summer holiday, I tidied up the room and have this one spot as my mini library. I didn't notice that ummi loves to have a look at the books at the corner. Until one day, I dig into her handbag to look for something but found one of my books in her handbag. Speechless, grateful deep down.
The last week before I flew back to the UK, Ummi asked me my plan for the week. I told her my plans for each day. One of them is to go to Sri Kembangan to shop books to bring back to the UK. Ummi just nodded, and on the day I wanted to go to the book shop, Umi told Yah in front of me,
"Yah, jom ikut kak diyana pergi kedai buku nak tak?"
Subhanallah, blessings all around.
Just keep on doing our best in D&T, outside, or back home. They didn't show, but they silently observe. I didn't promise it's going to be easy, but surely worth it.
Sindrom-sakit-rumah
Alhamdulillah.
Subhanallah, alhamdulillah. Family, is indeed one of the biggest reason for me to express my gratitude to Allah, after Islam, Iman, and this Dakwah & Tarbiyah. I can't thank Allah more for this.
Whenever I love someone, I can't help but to pray that Allah choose them, to be in this Dakwah&Tarbiyah. What is a better place/position one can achieve than to be His helpers? - regardless, how helpless, how impossible that prayer seemed to me.
That is until, my elder brother....
The one whom I used to fight with when turning on the radio.
I hate all those crap songs he's listening to.
The one whom whatever I do - usrah, daurah, tajmik and many more - is his laughing stock.
.. got married to an ukht. And is joining usrah now.
Long way to go but, all the impossible seems so clear to me now. Allah is indeed the All-Hearing.
From that moment onwards, my prayers landscape has changed its tone. Full of confidence, full of hope. I know he'll grant our prayers.
The journey of Dakwah & Tarbiyah with your family is a whole different story. Regardless how many juniors you approached, how many halaqah you conducted, how many taujihat you presented, how many programmes you organised; your family is not - even close - to any of those.
They know the black and white - greys included - of you. Doing dakwah to them, tests the truth of your dakwah, you can hide nothing.
And them - each of them - have their own ego; now testing your hikmah. Subhanallah, a long journey indeed. But I shall not surrender.
I did not express it, but I can see Ummi's view, changed.
I remember, my mobility to programmes, were usually restricted by ummi and abi' permission. They used to say I am too busy, I need to spend more time home, I have to learn to appreciate the family..
That is until, I realised my dakwah and tarbiyah isn't balanced. I failed to do my part back home. I tried, changing.
Later on I see changes around me as well.
Plot twist.
Umi will be the one asking, "kenapa tak pergi?"
"Na, cuba la ajak kaklah sekali"
"Kaklah nak pergi vacation"
"Cuti tu kan panjang, takkan semuanya pergi vacation"
One habit that I think anyone who joins D&T will posses is, book obsession.
I kept on buying books, and during last summer holiday, I tidied up the room and have this one spot as my mini library. I didn't notice that ummi loves to have a look at the books at the corner. Until one day, I dig into her handbag to look for something but found one of my books in her handbag. Speechless, grateful deep down.
The last week before I flew back to the UK, Ummi asked me my plan for the week. I told her my plans for each day. One of them is to go to Sri Kembangan to shop books to bring back to the UK. Ummi just nodded, and on the day I wanted to go to the book shop, Umi told Yah in front of me,
"Yah, jom ikut kak diyana pergi kedai buku nak tak?"
Subhanallah, blessings all around.
Just keep on doing our best in D&T, outside, or back home. They didn't show, but they silently observe. I didn't promise it's going to be easy, but surely worth it.
Sindrom-sakit-rumah
Alhamdulillah.
Sunday, January 10, 2016
Cari.
“Sesungguhnya orang-orang yang derhaka,
mereka selalu mentertawakan orang-orang yang beriman.
Dan apabila orang-orang yang beriman lalu
dekat mereka, mereka mengerling dan memejm celikkan mata sesame sendiri
(mencemuhnya).
Dan apabila mereka kembali kepada kaum
keluarganya, mereka kembali dengan riang gembira.” [Al-Muthaffifin, 83:29-31]
Boleh jadi, masa untuk bergelak ketawa
panjang, telah pun berlalu.
Muhasabah. Yang amat panjang.
Aku masih terlalu amat banyak bermain-main
dengan dakwah ini!
Buat sekadar berbuat.
Menyahut acuh tak acuh.
Memikir di minit-minit terakhir.
Alangkah banyaknya gelak tawa
Alangkah banyaknya bual kosong dan
cakap-cakap sia
Alangkah banyaknya duduk-duduk tak
bermanfaat dan menungan kosong
Alangkah derhakanya aku.
Bermain-main.
Dengan dakwah ini.
. . . . .
Berkelana di bumi Cork.
Memerhati bagaimana mereka menyikapi
liqa’-liqa’ mingguan mereka. Sang murabbi tak memandang enteng kelewatan
mutarabbinya. Serius, kerana mad'unya kader untuk ummah ini.
Sang murabbi tak berpada-pada bersiap untuk
liqa’ di minit akhir. Pembacaan meluas, olahan jelas, memikir penuh amanah.
mendengar penuh ihsan.
Qadhaya mereka tak sekadar
mencampak-longgok masalah-masalah dakwah kemudian disoal mengapa begitu dan
begini. Tapi semua prihatin mencari solusi seolah masalah sendiri. Memangnya,
masalah ukhti kita adalah masalah semua. Mas’uliyat ukhti kita adalah
mas’uliyat semua. Bersama.
Para pendokong bukan sekadar 'menolak' adik-adik mereka, tapi mereka memandang serius tarbiyah sendiri. Responsif, proaktif, bersungguh dalam apa yang disusun oleh kakak-kakanya.
“Allah menepati janjinya kepada ahli
syurga, mereka pun memandangi wajahNya hingga puas”
Bicara Umar saat menemukan anaknya membeli
daging kerana teringin memakannya, “Apakah bila engkau menginginkan sesuatu,
engkau sentiasa mendapatkannya?”
“Pertemuan kita bukan sekadar ingin
menggemukkan fikrah, tapi menguatkan lagi obsesi kita kepada syurga, menguatkan
kerinduan kita kepada Allah dan rasul, menguatkan kerinduan kita kepada rehat
di Syurga”
Saat merasakan semangat telah melemah,
Temukan cara untuk mencari solusi,
menemukan kembali jiwa yang hilang itu.
Cukup, cukup bercakap.
Mungkin yang perlu dibicarakan saat ini,
Ialah soal amal.
Monday, January 4, 2016
Beyond. Compare.
In the lifespan of a murabbi,
The rejection of her mutarabbi, is the biggest rejection ever happened to her.
For the first time.. she cries in her sleep,
Her tears run as fast as the shower falling on top of her,
Her dark rings grow bigger around her eyes,
It's painful.
This one time.
Hits me,
hard.
. . . . . . .
Pedih dan tajamnya, masih saja membekas,
Parut dan lukanya, masih saja memerah.
Ya Syafii, O the one heals,
Heal my heart, for it's nearly broken.
Ya Ghafuur, O the one who forgives,
Forgive my sins, for too many it is.
Ya Samii', O the one who listens,
I no longer have words to say.
But please,
listen to my silence of despair.
. . . . . .
Rejections.
One after another.
Of loved ones.
Sometimes too much.
It hurts so deeply...
Can I spend a day to just cry?
As I remember this one, my eye reddens
As I recall the one before this one, my heart hurts
And the one before.
And the one before.
Too many in these previous years.
Pain.
. . . . . .
The holy book wrapped in blue, unfolded
"Ta-ha" (1)
We did not reveal the Qur'an to you so you face hardship" (2)
"Has there come to you the story of Musa?" (9)
Who received the revelation amidst own sins and guilt.
Who ran away out of fear for his staff turned into snake.
Who was mandated to call Fir'aun to Allah.
Who was declined by his own people.
Who was... rejected.
Then to the next chapter of "Al-Anbiya'"
Of the stories of Musa and Harun and the worshiping of the cow statue,
Of Abraham that was thrown into the fire,
Of Luth, Ishaq and Ya'qub facing the people of evil,
Of Dawud and Sulaiman granted hikmah and wealth,
Of Ayyub and his gentle and passionate prayers to Allah,
Of Isma'il, Idris, Dzulkifli, Nuuh, Zakariyya, and Maryam...
Of uncountable rejections and endless accusations.
Allah....
Astaghfirullah.
Subscribe to:
Comments (Atom)


