Sunday, January 10, 2016

Cari.

“Sesungguhnya orang-orang yang derhaka, mereka selalu mentertawakan orang-orang yang beriman.
Dan apabila orang-orang yang beriman lalu dekat mereka, mereka mengerling dan memejm celikkan mata sesame sendiri (mencemuhnya).
Dan apabila mereka kembali kepada kaum keluarganya, mereka kembali dengan riang gembira.” [Al-Muthaffifin, 83:29-31]

Boleh jadi, masa untuk bergelak ketawa panjang, telah pun berlalu.


Muhasabah. Yang amat panjang.


Aku masih terlalu amat banyak bermain-main dengan dakwah ini!

Buat sekadar berbuat.
Menyahut acuh tak acuh.
Memikir di minit-minit terakhir.

Alangkah banyaknya gelak tawa
Alangkah banyaknya bual kosong dan cakap-cakap sia
Alangkah banyaknya duduk-duduk tak bermanfaat dan menungan kosong

Alangkah derhakanya aku.

Bermain-main.
Dengan dakwah ini.



. . . . .

Berkelana di bumi Cork.

Memerhati bagaimana mereka menyikapi liqa’-liqa’ mingguan mereka. Sang murabbi tak memandang enteng kelewatan mutarabbinya. Serius, kerana mad'unya kader untuk ummah ini.

Sang murabbi tak berpada-pada bersiap untuk liqa’ di minit akhir. Pembacaan meluas, olahan jelas, memikir penuh amanah. mendengar penuh ihsan.

Qadhaya mereka tak sekadar mencampak-longgok masalah-masalah dakwah kemudian disoal mengapa begitu dan begini. Tapi semua prihatin mencari solusi seolah masalah sendiri. Memangnya, masalah ukhti kita adalah masalah semua. Mas’uliyat ukhti kita adalah mas’uliyat semua. Bersama.

Para pendokong bukan sekadar 'menolak' adik-adik mereka, tapi mereka memandang serius tarbiyah sendiri. Responsif, proaktif, bersungguh dalam apa yang disusun oleh kakak-kakanya. 




“Allah menepati janjinya kepada ahli syurga, mereka pun memandangi wajahNya hingga puas”

Bicara Umar saat menemukan anaknya membeli daging kerana teringin memakannya, “Apakah bila engkau menginginkan sesuatu, engkau sentiasa mendapatkannya?”

“Pertemuan kita bukan sekadar ingin menggemukkan fikrah, tapi menguatkan lagi obsesi kita kepada syurga, menguatkan kerinduan kita kepada Allah dan rasul, menguatkan kerinduan kita kepada rehat di Syurga”




. . . . . . 

Saat merasakan semangat telah melemah, 
Temukan cara untuk mencari solusi,
menemukan kembali jiwa yang hilang itu.









Cukup, cukup bercakap.


Mungkin yang perlu dibicarakan saat ini,  
Ialah soal amal.

No comments:

Post a Comment