Monday, May 23, 2016

Verily, I'm near.

Tak senang duduk.

Tak semena. Computational practice yang sedang dilakukan pun tiba2 jadi serabut. Serba tak kena. Asyik error. Tudung pun rasa rimas.

Berhenti kejap. Ke tandas. Betulkan tudung. Wudhu'

Kembali.

I'd better delete this one.

And start over
Set up
Intialize
Run

.
.
.
Blank

Tiada data.

Bertahan.
Browse semua tab yang ada mencari apa yang dia tersilap

Tab run calculation
Iteration: 0
Itulah sebabnya tiada data!

"La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzhalimin

Terpacul spontan di bibirnya

Tiada ilah melainkan Engkau. Maha suci Engkau sesungguhnya aku termasuk  hamba2 yang zhalim


Kalau.
Kekalutan dan serba tak jumpa dalam studi. Buat makin rasa hinanya diri, dan besarnya Dia... Biarlah aku menghayati kehinaan ini.

Terdetik.
Allah, kenapa Engkau dengar keluhan aku?

The verse translating to:
"Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku penuhi permintaan para peminta apabila mereka meminta...."

Immediately heard on the earphone.




Allah, to you I surrender.


Ukhti, aku kerinduan.

Saat dinding muka bukumu kulihat hanya post peribadi
Ukhti, aku dirudung sayu
Saat kau kulihat berbalas komen dan like di dinding sang tunang
Ukhti, aku dicengkam pilu
Saat engkau berkomentar peri filem panggung terkini
Ukhti, aku dihurung sepi

Dadaku berombak - Ukhti,
Kau tak membenci jalan ini
Kau tak terbeban oleh jalan ini
Kau tak dikongkong oleh jalan ini

Kau cuma
Teralih oleh mehnah peribadi - yang mencengkam
Tertipu saat disibukkan oleh dunia - yang memperdaya
Tertahan dek maksiat hitam membesit - yang mengaburkan tujuan

Hingga engkau lupa,
Ini jalan indah yang pernah kita ikrarkan bersama
Ini jalan sukar, yang keserabutannya mengajar kita erti kemanisan
Ini jalan anbiya', yang tak mungkin kita pilih selainnya

Ukhti aku merayu
Janganlah engkau berputus asa dari jalan dakwah ini...

Di tengah bening dhuha
Aku teringat

Aku rindu saatnya
Imanku lemah dan engkau, menguatkan
Aku keculasan dan engkau, mengingatkan
Aku keletihan dan engkau, memberi semangat

Antara kelibatmu - kamu, kamu dan kamu di jalan ini dan sebuah memori
Ukhti, aku kerinduan.


NDNT
10:36:34
23.05.16
Exeter Way, Sheffield

Thursday, April 14, 2016

Jalan Thabat.

Saat seorang ukhti, yang dilahirkan dalam keluarga ikhwah akhawat berbicara,
"*** dah taknak join usrah. Selama ni dia join sebab mak dia suruh je. Dia kata tak sabar nak keluar sekolah nak bebas dari usrah-usrah ni. Tahu2 nama dah kena forward, xboleh lari dah. Bila fly pun sama. Setiap kali nak pergi usrah stress"

Saat seorang ikhwah, yang suatu masa dahulu merupakan YDP di kawasanmu, melontarkan,
"Just to clarify, I'm no longer part of ****M"


Kita makin kenal,

Tabiat jalan ini.



Jalan thabat.




Kalau bahkan YDP engkau sendiri bisa bicara yang seperti itu, kita makin tahu, keberadaan kita di atas jalan dakwah ni, kita sandarkan cuma pada Allah.

Pada Allah cuma.




Feeling demotivated,
mungkin bukan kerana terkejut,
atau merasa goyah...


Tapi kerana,
mereka ikhwah akhawat yang dicinta.

Monday, April 11, 2016

Al-Birr.

Aku kira ini bukan escapisme.

A retreat instead.



Menerima kata-kata yang dirasakan pedih dan mencucuk. Kasar dan tak mengenal belas. Sakit. Nak membalas pun, terlalu penat untuk itu. Bila simpan sendiri, kadang aku cuma perlu beberapa saat pejaman mata untuk beritahu hati, sakit.

Tinggal beberapa depa cuma ke rumah sewaan. Aku decide untuk solat di surau berdekatan instead. Menanti sang muazzin melaungkan iqamat, aku teruskan hafazan.


Lidah dilantun-lantun seiring gerak anak mata. Hati.. menerawang. Hingga ia teringat kembali kepedihannya. Serentak itu lidah sedang tepat melantun baris kalamNya berbunyi

"Dan orang-orang yang bersabar pada kemelaratan, penderitaan dan ketika waktu perang..."

Lemah.

"Mereka itulah orang-orang yang benar.."

Kelajuan bacaan makin perlahan, perlahan.. Aku bukan orang itu ya Allah..

"Dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa"

Jauh.


Pujukan paling lembut. Terhadap keserabutan ini. Minda, hati, nurani.


Aku biar masa berlalu, dan aku mengulang lagi muka surat yang sama. Tiap kali hati mengingati apa yang menyakitinya, tiap kali itu lidah sedang mengulang ayat yang sama itu. Tentang para penyabar itu.




Allah, mengajar aku tentang al-Birr.


Sunday, March 6, 2016

Remembrance of late Wan.


I write. So I remember.




Wan. It has been three years that you are bed-ridden. I am pleased, and pleasured, if you leaving - is the better option.

I witnessed your healthy days. That you are, as energetic as young adults are. I remember days, when I have to rush to the bathroom as soon as I open my eyes early in the morning before fajr, so that you don't enter before me. With your slow paced-walk, and weak backbones that are no longer straight, I envy you at how istiqamah you are with night prayers.

You. are more bashful than young ladies. You keep your voice low, tidy up your room neat, and eat with manners. Gadis kampung - that is you.

As I received the news of you. I tried keeping calm but I can't deny I lose focus.



The surprise snow that falls in the midst of spring, is like tears, that weeps upon your passing. And like the rain, that calms the sadness of the weeping hearts.

Still, looking cool. But bursts as I prostrate in my prayers. Only to You Allah, that I can't lie.

I miss.

Feeding you with your favourite food.
Listening to you about the historic times of Tanah Melayu.
Reciting Qur'an to you, when reciting alone makes me sleepy.
Massaging your swollen muscle, till you fall asleep.
Walk passing your room, with the lights on.
And you holding my hand tight, as I bid farewell before leaving for the Uni.




Opened the Quran to finish my Kahf. And there the first verse,

"That is how We show to human, 
so that they know, 
that His promise is true, 
that there is no doubt 
upon the Day of Judgement"

Teary as I am completing my Kahf. And sometimes paused as the the tears overwhelmed. It's painfully hard to face this Allah. And continue to the next page,

"And be patient with those 
who call for their Lord 
in the morning 
and during the dusk, 
wanting His pleasure.."




Friday, February 12, 2016

Iman.

Iman validates all the laws, relationships, formulaes that we have ever learned in Dakwah.

Imanlah kuncinya.


Tak kira di mustawa mana, berapa usia kita dalam dakwah dan tarbiyah, berapa ramai pun anak binaan, melakukan tajmik atau takwin,

tak ada yang mampu menjamin kelestarian dakwah dan tarbiyah kita.
Begitupun jika tetap saja ada di jalan dakwah, bara momentum, komitmen dan ghairah dalam menyerahkan tenaga dan tubuh kita tetap saja membutuhkan koreksi jujur dari diri kita

Ada yang kata, bukan dia lagi lama join DnT dari saya ke, kenapa susah nak nampak di daurah, tak hadir meeting, susah menyahut seruan-seruan amal..

Boleh jadi ada faktor yang lebih besar dari itu yang menentukan pergerakan kita di arena dakwah ini...

... Iman.





Benar, semakin fahamnya seseorang melalu taujiah fikriyah yang ia terima,
semakin panjang usia dan mehnah yang dilalui di atas jalan dakwah,
semakin banyak teguran dan situasi yang ia sendiri hadapi di jalan dakwah,

Pastinya..
Mengukuhkan kefahaman, memberi kekuatan, menguatkan daya tahan, melajukan sendi dan tulang, menambah bernas buah fikiran, membantu mengikhlaskan dan mencintai amal di jalan dakwah.

Tapi semua itu
Hanya dan jika hanya,
Imannya di jaga di sepanjang jalan amal itu.





Namun jika tidak.

Biar siapa pun dia, apa pun jawatannya,
Saat Imannya sedang sakit..

usah diungkit mustawa atau marhalah atau pengisian yang pernah ia terima.
semua itu tak bererti

Allah akan menjadikan amal dakwah ini rumit untuknya, perkara mudah terasa sukar untuknya. Jalan yang suatu masa teramat manis, seolah beban yang merimaskan.

Begitu...
Saat mutabaahnya melemah. Saat hubungan dengan Allah merapuh. Saat muhasabah diri begitu jauh. Saat ibadah khususnya berkurang.. Namun tak ada yang ia perbuat untuk mendaki semula prestasi amal.




Betapa.
Wahyu Rabbani itu kalimah yang terlampau mulia, diserah kepada malaikat suci nan taat tak berbelah bahagi pada Ilahi
Dakwah ini penghormatan yang terlampau tinggi, diberi kepada para nabi yang terlalu akrab dengan kekasihnya

Bagaimana sekali kita yang hina, ingin berbuat dakwah menyampaikan risalah cuma dengan tulang empat kerat, jiwa kecil yang berkarat, pengalaman tak seberapa tapi merasa hebat, dan semangat yang kian kemari kembang kuncupnya...
Tanpa mengambil cinta dan asa dari langit?










Rindu yang amat rindu.

Sunday, January 17, 2016

Family: Thankful all around.

Bila sebut tentang family, I easily smile wide.

Subhanallah, alhamdulillah. Family, is indeed one of the biggest reason for me to express my gratitude to Allah, after Islam, Iman, and this Dakwah & Tarbiyah. I can't thank Allah more for this.

Whenever I love someone, I can't help but to pray that Allah choose them, to be in this Dakwah&Tarbiyah. What is a better place/position one can achieve than to be His helpers? - regardless, how helpless, how impossible that prayer seemed to me.

That is until, my elder brother....
The one whom I used to fight with when turning on the radio.
I hate all those crap songs he's listening to.
The one whom whatever I do - usrah, daurah, tajmik and many more - is his laughing stock.

.. got married to an ukht. And is joining usrah now.

Long way to go but, all the impossible seems so clear to me now. Allah is indeed the All-Hearing.

From that moment onwards, my prayers landscape has changed its tone. Full of confidence, full of hope. I know he'll grant our prayers.



The journey of Dakwah & Tarbiyah with your family is a whole different story. Regardless how many juniors you approached, how many halaqah you conducted, how many taujihat you presented, how many programmes you organised; your family is not - even close - to any of those.

They know the black and white - greys included - of you. Doing dakwah to them, tests the truth of your dakwah, you can hide nothing.

And them - each of them - have their own ego; now testing your hikmah. Subhanallah, a long journey indeed. But I shall not surrender.


I did not express it, but I can see Ummi's view, changed.

I remember, my mobility to programmes, were usually restricted by ummi and abi' permission. They used to say I am too busy, I need to spend more time home, I have to learn to appreciate the family..

That is until, I realised my dakwah and tarbiyah isn't balanced. I failed to do my part back home. I tried, changing.

Later on I see changes around me as well.

Plot twist.
Umi will be the one asking, "kenapa tak pergi?"

"Na, cuba la ajak kaklah sekali"
"Kaklah nak pergi vacation"
"Cuti tu kan panjang, takkan semuanya pergi vacation"

One habit that I think anyone who joins D&T will posses is, book obsession.

I kept on buying books, and during last summer holiday, I tidied up the room and have this one spot as my mini library. I didn't notice that ummi loves to have a look at the books at the corner. Until one day, I dig into her handbag to look for something but found one of my books in her handbag. Speechless, grateful deep down.

The last week before I flew back to the UK, Ummi asked me my plan for the week. I told her my plans for each day. One of them is to go to Sri Kembangan to shop books to bring back to the UK. Ummi just nodded, and on the day I wanted to go to the book shop, Umi told Yah in front of me,

"Yah, jom ikut kak diyana pergi kedai buku nak tak?"






Subhanallah, blessings all around.

Just keep on doing our best in D&T, outside, or back home. They didn't show, but they silently observe. I didn't promise it's going to be easy, but surely worth it.


Sindrom-sakit-rumah
Alhamdulillah.