Friday, February 12, 2016

Iman.

Iman validates all the laws, relationships, formulaes that we have ever learned in Dakwah.

Imanlah kuncinya.


Tak kira di mustawa mana, berapa usia kita dalam dakwah dan tarbiyah, berapa ramai pun anak binaan, melakukan tajmik atau takwin,

tak ada yang mampu menjamin kelestarian dakwah dan tarbiyah kita.
Begitupun jika tetap saja ada di jalan dakwah, bara momentum, komitmen dan ghairah dalam menyerahkan tenaga dan tubuh kita tetap saja membutuhkan koreksi jujur dari diri kita

Ada yang kata, bukan dia lagi lama join DnT dari saya ke, kenapa susah nak nampak di daurah, tak hadir meeting, susah menyahut seruan-seruan amal..

Boleh jadi ada faktor yang lebih besar dari itu yang menentukan pergerakan kita di arena dakwah ini...

... Iman.





Benar, semakin fahamnya seseorang melalu taujiah fikriyah yang ia terima,
semakin panjang usia dan mehnah yang dilalui di atas jalan dakwah,
semakin banyak teguran dan situasi yang ia sendiri hadapi di jalan dakwah,

Pastinya..
Mengukuhkan kefahaman, memberi kekuatan, menguatkan daya tahan, melajukan sendi dan tulang, menambah bernas buah fikiran, membantu mengikhlaskan dan mencintai amal di jalan dakwah.

Tapi semua itu
Hanya dan jika hanya,
Imannya di jaga di sepanjang jalan amal itu.





Namun jika tidak.

Biar siapa pun dia, apa pun jawatannya,
Saat Imannya sedang sakit..

usah diungkit mustawa atau marhalah atau pengisian yang pernah ia terima.
semua itu tak bererti

Allah akan menjadikan amal dakwah ini rumit untuknya, perkara mudah terasa sukar untuknya. Jalan yang suatu masa teramat manis, seolah beban yang merimaskan.

Begitu...
Saat mutabaahnya melemah. Saat hubungan dengan Allah merapuh. Saat muhasabah diri begitu jauh. Saat ibadah khususnya berkurang.. Namun tak ada yang ia perbuat untuk mendaki semula prestasi amal.




Betapa.
Wahyu Rabbani itu kalimah yang terlampau mulia, diserah kepada malaikat suci nan taat tak berbelah bahagi pada Ilahi
Dakwah ini penghormatan yang terlampau tinggi, diberi kepada para nabi yang terlalu akrab dengan kekasihnya

Bagaimana sekali kita yang hina, ingin berbuat dakwah menyampaikan risalah cuma dengan tulang empat kerat, jiwa kecil yang berkarat, pengalaman tak seberapa tapi merasa hebat, dan semangat yang kian kemari kembang kuncupnya...
Tanpa mengambil cinta dan asa dari langit?










Rindu yang amat rindu.