Madrasah malam itu.
Satu muhasabah tentang kehidupan dia
Tentang kemanusiaan dia.
Tentang hubungan dia dengan manusia lainnya
Tentang dakwahnya.
Dia luahkan pada Allah
"Ya Allah, aku ingin perbaharui keberadaan aku di jalan dakwah ini"
Start over
Refresh
Rejuvenate
. . . . . . .
Usai subuh pagi itu bersama akhawat lain
Dia pegun di ruang tamu
Menyudahkan tilawahnya
Tilawahnya kurang berbanding hari biasa
Kerana dia ingin membuat hafazan pula
Muka 22 kali ini.
Serentak dia memulai hafazan,
Terpandang langit melalui tingkap di hadapannya
MasyaAllah, terkagum
awan bergerak pantas
dengan rona-rona merah jambu sebagai latar
jingga, biru gelap
Sungguh lukisan langit subuh Allah
Sebuah maha karya yang agung
sambil lidahnya melantunkan kalam-kalam Allah
kepalanya berselang mendongak ke pemandangan pergerakan awan
dan menunduk menatap kalam Allah setiap kali dia lupa sambungannya
Hingga tiga empat kali muka surat itu diulangnya
Dia mula cuba menterjemah setiap patah kata pula setiap kali membacanya
Masih, baca, dan dongak ke langit
Sambil mata tertancap pada rona merah betukar jingga di dada langit, lidahnya melantunkan..
"Qad nara taqalluba wajhika fis sama'"
...
Terdiam terus dia saat memahami makna kalimah itu
"Sesungguhnya Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit"
Kalimah 'wajhika fis sama'' (wajahmu ke langit) itu dibacanya tepat saat matanya sedang memandang langit.
bergetar jari jemarinya
panas terasa matanya
laju degupan jantungnya
Tangannya di dada merasai setiap denyutan jantungnya
Allah, Engkau benar-benar hadir.
Engkau benar-benar ada.
Engkau benar-benar wujud
Aku nak sangat jumpa Engkau!
Allah, mengapa Engkau mengubat jiwaku
Tanpa sempat aku meminta...
Dia jujurnya hampir lemas dengan kerja-kerja final year yang back-to-back, belum dicampur kerja dakwah. Setakat ni konsisten meeting setiap malam. Jika tidak, pasti ada halaqah. Pulang dari uni lewat jam 6 dengan langit sudah menjelang isya', bersiap untuk urusan malamnya pula.
Beberapa kali juga dia luahkan pada Rabb
"Aku serabut, I'm messed up, I'm lost"
Dan nyata, Rabbnya Maha Mendengar.
I don't need another remedy, Allah.
You're my cure.
Bahkan pernah.
Dalam perjalanan pulang dari bangunan lewat jam 5-6 petang
Tapi langitnya sudah malam, maghribnya jam 4.
Angin bertiup sangat kuat.
Hingga dia terpaksa berhenti terlebih dahulu, berlindung di balik pokok2.
Kemudian redah.
Waktu itu, rasa seperti keseorangan.
Tapi dia kata, Allah ada bersama aku, is more than enough.
Lidahnya kala itu sedang melantunkan zikir2 dari al-ma'thurat
Sambil telinganya pun disumbat earphone surah al-baqarah.
Saat lidahnya sampai pada bahagian
"Wa la tuhammilna ma la thaqota lana bih"
Serentak ipodnya pun sedang melantunkan ayat yang sama. serentak.
Dari itu, Allah hadiahkan sebuah perasaan.
Engkau tak sendiri.
Seolah Allah membaca bersama engkau.
Allah. Wordless. Priceless.
. . . . .
Hafazan masih diteruskan
Muka surat yang sama masih diulang hingga entah yang ke berapa kali
Sikit demi sedikit, dia memahami makna keseluruhan ayat yang diulang.
Sikit demi sedikit, it comes into her sense,
tentang apa yang Allah nak sampaikan
"Dan demikianlah kami jadikan kamu umat pertengahan
Agar kamu menjadi saksi ke atas umat manusia
Dan rasul menjadi saksi ke atas kamu..."
Semakin diulang
Semakin dirasa 'weight' ayat itu
Penyaksian kamu terhadap umat manusia
Penyaksian terhadap kebenaran.
Sungguh terjawab doanya baru beberapa jam yang lalu
"Ya Allah, aku ingin memperbaharui keberadaan aku di jalan dakwah ini"
Syahadah ini. Syahadatul Haq.
The day He stole my heart like no one did
A slave, longing to meet her Master
